BREAKING NEWS

Join the Club

Selasa, 27 Januari 2015

Pendopo Agung Trowulan Mojokerto

Misteri juga menyelimuti Pendopo Majapahit yang berjarak tidak jauh dari Situs Kedaton di Desa Sentonorejo tersebut. Pendopo Majapahit itu diyakini merupakan pusat kerajaan Majapahit dengan dugaan luasnya yang mencapai besaran kilometer, terbentang ke barat, timur, selatan dan utara dari pendopo. Di belakang pendopo, ada batu miring yang merupakan tempat Gajahmada membaca ikrar "Sumpah Palapa", kemudian di belakangnya merupakan tempat pertapaan dan makam Raden Wijaya.
Tempat-tempat bersejarah di Trowulan menyimpan banyak misteri. Tak heran, jika penjaga candi dan juru kunci makam suka melontarkan nasehat ketat buat mereka yang berkunjung ke lokasi. Di belakang Pendopo Agung Trowulan, terdapat tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu kelahiran Majapahit. Tempat yang diyakini sebagai petilasan Raden Wijaya ini bernama Petilasan Panggung. Disinilah Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa, disaksikan Raden Wijaya dan para pengikutnya.
Masuk kompleks petilasan, pengunjung akan melihat bebatuan yang dibentuk layaknya makam. Ruangan itu dihiasi kelambu putih transparan dan beberapa lukisan yang menambah kesakralan Petilasan Panggung. Pada waktu tertentu, khususnya malam Jumat Legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharap berkah. Tak tanggung-tanggung, mereka berdatangan dari Jakarta, Surabaya bahkan Bali. Pemugaran lokasi Petilasan Panggung dan Pendopo Agung yang dilakukan Ibu Sudarijah pada tahun 1964 dan mantan Pangdam V Brawijaya, Imam Utomo pada tahun 1995, tak mengurangi kekhusukan para pengunjung.

Tahun 1985 hingga 1995, Petilasan Panggung sempat tertutup untuk publik. Sejak dinyatakan dibuka kembali, pintu petilasan tidak lagi tertutup dan boleh dimasuki para tamu, kapan saja.

Masih di kompleks yang sama, pengunjung juga bisa melihat sebuah tonggak yang menancap di tanah dengan kemiringan kurang lebih 60 derajat. Konon, tonggak ini pernah digunakan sebagai tonggak tempat mengikat gajah dan kuda kendaraan Gajah Mada.

Sebuah sumber menyebut, tonggak ini tak bisa dicabut. Untuk meraba panjangnya juga sulit, karena saat digali, tonggak itu seperti tak berpangkal. kompleks bangunan utama berupa Pendopo berbentuk Joglo. Rumah adat Jawa Kuno ini dijaga oleh patung Gadjah Mada yang terletak di sebelah kiri gapura. Di pelataran pendopo, terdapat sejumlah pohon beringin. Daunnya yang lebat membuat halaman menjadi rindang dan berhawa sejuk.

Bahkan, di saat matahari terik pun pendingin alami ini membuat udara tetap sejuk, karena sinar matahari tidak mampu menerobos rimbunan daun. Di belakang pendopo, juga terdapat halaman luas. Pagar setinggi 1,5 meter mengitari halaman yang senyap tertutup rimbun pohon-pohon besar yang tumbuh liar. Sebuah makam panggung lengkap dengan batu nisannya terdapat di halaman yang ditumbuhi rumput liar tak terawat ini.

Makam ini berada di bangunan yang menyerupai pendopo dengan luas sekitar 300 meter persegi. Untuk bisa memasuki ruangan makam, kita harus melewati tirai kain warna putih. Wangi-wangian kembang melati dan kemenyan (dupa) segera tercium begitu kita berada di dalamnya. Tepat di tengah ruangan berukuran 5 x 6 meter, makam dengan pusara itu berada.

Di atas pusara terdapat dua payung bertangkai panjang. Sebuah lukisan yang menggambarkan kekuatan bumi, air, api, dan cahaya pun menghiasi dinding di sisi makam. Sosok laki-laki berbadan kekar mirip Gadjah Mada melambangkan bumi. Lukisan laki-laki berwarna hitam ini tengah memangku sosok putri.

Unsur api digenggam tangan kanan dan sosok putri -- perlambang air -- ada di tangan kiri. Kepala raksasa bumi ini menyangga putri -- perlambang cahaya -- yang membawai semua unsur di bawahnya. Ruangan ini hanya diterangi lampu warna kuning 10 watt, yang membuat kesan angker dan magis. Menurut jurumakam, Sajaduk, makam panggung ini bukanlah makam sungguhan dalam arti tempat persemayaman terakhir manusia. Namun, warga mempercayai tempat ini dulunya merupakan wilayah hutan Tarik sebagai tempat permulaan Raden Wijaya melakukan babad alas yang kemudian menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit. "Ada pula yang meyakininya sebagai tempat Gadjah Mada bersemedi," 

Kota Mojokerto Gagas Perda ASI


BEJO – Pemberian ASI untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak, menjadi perhatian Pemerintah Kota Mojokerto.Kini pemda setempat mulai menggagas pembuatan peraturan daerah (Perda) tentang Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif.
Jika raperda yang mengatur tentang kewajiban pemberian ASI ini sudah disahkan oleh DPRD, maka seluruh kantor, penyelenggara kesehatan dan sarana umum wajib menyediakan ruang laktasi untuk ibu menyusui. "Kami sekarang sedang menyusun raperda ASI. Untuk diajukan di legislatif masih butuh beberapa tahapan lagi. Tapi substansinya perda Pemberian ASI Eksklusif ini untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Kota. Mojokerto," kata Kepala Dinkes Kota Mojokerto, Christiana Indah Wahyu, Senin (26/1).
Diterangkan, bahwa  ASI eklusif perlu diberi artikulasi dalam penanganan kesehatan anak, karena dengan ASI eklusif maka akan terjadi komunikasi dan transfer emosional antara ibu dan bayi.
Selain itu, ASI juga handal dalam hal imunitas bayi serta pembentukan karakter. Raperda yang diprakrasi  kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto ini juga mengatur larangan merokok di dalam rumah jika ada bayi di dalam rumah tersebut. "Perokok aktif dilarang merokok di rumah tangga yang didalamnya ada bayi. Ini bentuk perlindungan anak dari bahaya rokok yang perlu dimasukkan dalam raperda ASI," tuturnyanya.
Perda pemberian ASI Eksklusif dibuat selain untuk kebutuhan dasar anak, juga tak lepas dari sinyal pemerintah pusat. "Ada ketentuan dari pusat agar daerah melindungi warganya melalui pemberian ASI eklusif," imbuhnya. Dengan perda ASI Eksklusif, lanjut Indah, maka semua rumah sakit, rumah bersalin, fasilitas umum dan perusahaan wajib menyediakan ruang laktasi. (wes) 
(Baca Sumber Artikel Aslinya Disini)

Candi Bajangratu Trowulan Mojokerto

Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, desa Temon kecamatan Trowulan. Perjalanan dapat ditempuh dari perempatan Dukuh Nglinguh ke arah timur sejauh kurang lebih 2 Km. Candi Bajangratu terletak sekitar 200 m masuk ke utara dari jalan desa.

Candi Bajang Ratu yang berkaitan dengan penobatan Jayanegara sebagai ratu saat masih "bajang" (kecil) itu tampak indah dengan paduan taman bunga warna-warni seluas 11.500 meter persegi dengan jalan masuk yang cukup luas.
Dalam wacana Jawa Kuno, bajang berarti kecil atau kerdil. Sehingga Bajangratu berarti orang yang naik tahta atau menjadi raja ketika masih kecil. Dalam catatan sejarah Majapahit, raja yang diangkat sejak masih kecil adalah Jayanegara.

Candi Bajangratu sewaktu ditemukan dalam keadaan yang mengkhawatirkan, untuk menghindari kerusakan, maka pada tahun 1890 dipasangkan balok-balok kayu sebagai penyangga langit-langit. Kemudian diganti dengan besi.
Penyelamatan bangunan dari reruntuhan diselesaikan pada tahun 1915, sedang penggalian serta penyelidikan di sekitar candi tahun 1991. Bangunan yang ada sekarang adalah hasil pemugaran dari tahun 1985 / 1986 kemudian dilanjutkan tahun anggaran 1988 / 1989 sampai dengan 1990 / 1991.

Candi Bajangratu berbentuk Gapura pintu masuk, terbuat dari batu bata merah kecuali undak-undakannya dan bagian atas langit-langit dan ambang atas terbuat dari batu andesit. Candi Bajangratu sebenarnya adalah gapura atau regol, modelnya seperti candi Bentar tetapi ada tutup di atasnya sering disebut Paduraksa diikuti dengan Semartinandu artinya depan dan belakang hampir sama. Candi bajangratu sebelah kiri dan kanan terdapat samprangan dinding yang membujur ke arah timur dan barat. Maka Candi Bajangratu termasuk gapura bersayap.
Model semacam ini dapat ditemukan di daerah lain seperti :
* Komplek makam Sendang Duwur di Pacitan, Lamongan.
* Gapuro Jedong di Ngoro, Mojokerto.
* Plumbangan di Blitar.
Bila dilihat secara vertikal, Bajangratu dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu kaki, tubuh dan atap. Selain itu, gapura mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Di kaki gapura, ada hiasan yang menggambarkan cerita Sri Tandjung. Sedangkan di atas tubuh, ada hiasan kala dan sulur.

Pada bagian atap, ada hiasan kepala kala yang diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu atau monocle cyclops. Di sayap kanan, ada relief cerita Ramayana dan pahatan binatang bertelinga panjang. Konon, relief-relief ini berfungsi sebagai penolak mara bahaya.

Gapuro Bajangratu tinggi 16,10 meter, lebar 1,74 m dan panjang 11,20 meter. Umurnya candi Jawa Timur berbentuk kubus dan ramping. Bagian mahkota bangunan merupakan perpaduan tingakatan yang merupakan kesatuan makin ke atas makin kecil dan diselingi dengan pelipit-pelipit yang mendatar. Pelipit-pelipit tersebut dihiasi dengan sulur daun-daunan yang pada bagian tengahnya dan bagian sudutnya berhiaskan bentuk “Plata batu” atau monokol simblop artinya semua bagian-bagian tidak ada yang sama jadi hanya satu.

Antara menara-menara tersebut juga diselingi pelipit-pelipit mendatar. Yang sangat menarik adanya ukiran-ukiran yang berupa sepasang cakar yang diapit oleh Naga pada bagian atap gapura. Pada dinding kanan sayap gapura tedapat relief Ramayana sedang pada bagian kaki gapura kanan tangga masuk pada bidang menghadap ke selatan dan timur terdapat relief Sri Tanjung.



Catatan yang di dapat Mossaik menyebutkan, gapura ini dibuat sebagai prasasti peringatan wafatnya Jayanegara pada tahun Saka 1250 atau tahun 1328 Masehi. Meski sejarah Jayanegara teraba dengan samar, keberadaan Gapura Bajangratu sebagai sisa peninggalan sejarah Majapahit sangat sulit dipungkiri.

Bahkan ada yang menyebut, Bajangratu merupakan salah satu gapura kerajaan Majapahit. Menurut pendapat Sri Suyatmi menghubungkan dengan wafatnya Raja Jayanegara yang mangkat tahun 1328. Apabila pembangunan gapura dilaksanakan 12 tahun setelah pesta Srada maka pendirian gapura Bajangratu berlangsung tahun 1340.

Bentuk pintu sudah ada penyangga atap terbuat dari besi. Hal ini masih ada jenang pintu. Kemungkinan gapura ini dulunya berpintu dapat ditutup sebagaimana disebutkan dalam buku Negara Kertagama pintu terbuat dari besi yang berukir.



Candi Bajangratu dalam Mithos :



Ketika permaisuri raja Brawijaya V dari Majapahit yang bernama Dewi Arimbi sedang dalam keadaan hamil sang prabu memerintahkan untuk membangun sebuah gapura dengan maksud sebagai gerbang masuk ke tempat kediaman calon putra mahkota yang akan lahir. Dewi Arimbi adalah sebenarnya seorang puteri raksasa yang berasal dari Negeri Alengka. Ketika kandungan semakin tua dan melahirkan rahasia sang puteri diketahui oleh sang Prabu dan terdorong oleh rasa malu sang puteri kemudian meninggalkan istana dan ke hutan Damarwulan, di Kuncong Kediri.

Di sini sang puteri melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Arya Damar. Pembangunan gapura terpaksa tidak dilanjutkan hanya bagian kiri dan kanan gapura dipahatkan relief raksasa seolah-olah gambar Dewi Arimbi. Karena gapura ini gagal untuk Kraton maka kemudian dikenal dengan nama Bajangratu, artinya wurung tidak jadi ratu.

Cerita ini membekas di masyarakat terbukti masih ada kepercayaan tabu, bagi para pejabat pemerintah untuk memasuki gapuro karena akan membawa kesialan (wurung). Membaca sekelumit cerita tentang Bajang Ratu, angan kita dibawa "terbang" kembali di abad ke-13 silam. Jayanegara adalah pengganti Kertarajasa Jayawardana atau Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit. Kitab Negarakertagama menyebut Jayanegara yang hidup antara tahun 1294-1328 Masehi dijuluki Kala Gemet. Nama ini ada dalam Kidung Rangga Lawe dan Pararaton yang biasanya dimainkan dalam pertunjukkan ketoprak.
Kala bermakna "kejahatan" dan gemet artinya "lemah". Kala Gemet menjadi olokkan rakyat jelata sebagai "raja jahat yang lemah". Sumber sejarah lain menyebutkan Jayanegara adalah putra Raden Wijaya dari seorang wanita keturunan Melayu yang bernama Dyah Dara Petak.

Faktor keturunan ini membuat Jayanegara gamang akan legitimasinya dibanding saudara-saudara tiri perempuan dari garis ibu asli keturunan Majapahit. Diperkirakan, latar belakang inilah yang mendorong Jayanegara bertekad mengawini Tribuwanatunggadewi, saudara tirinya sendiri. Namun, sebelum cita-cita itu kesampaian, ajal sudah menjemput Jayanegara saat meletus pemberontakan Kuti.
 
Copyright © 2015 MOJOKLIK