BREAKING NEWS

Join the Club

Selasa, 27 Januari 2015

Makam Troloyo Trowulan Mojokerto

Lokasi : Di Dukuh Sidodadi, Desa Sentonorejo, kecamatan Trowulan. Kira-kira 750 m di sebelah selatan Candi Kedaton dan Sumur Upas.

Sangat toleransinya Majapahit terhadap agama Islam terlihat dari banyaknya makam Islam di desa Tralaya, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah). Yang menarik, walau kuburan Islam tetapi bentuk batu nisannya seperti kurawal yang mengingatkan kala-makara, berangka tahun huruf Kawi, yang berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat. Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di abad XVI saat kerajaan Demak.

Petilasan Walisongo
Menurut cerita rakyat, Troloyo merupakan tempat peristrirahatan bagi kaum niagawan muslim dalam rangka menyebarkan agama Islam kepada Prabu Brawijaya V beserta para pengikutnya. Di hutan Troloyo tersebut kemudian dibuat petilasan untuk menandai peristiwa itu. Tralaya berasal dari kata setra dan pralaya. Setra berarti tegal/tanah lapang tempat pembuangan bangkai (mayat), sedangkan berarti rusak/mati/kiamat. Kata setra dan pralaya disingkat menjadai ralaya.

Situs Troloyo terkenal sebagai tempat wisata religius semenjak masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, saat mengadakan kunjungan ziarah ke tempat tersebut. Sejak saat itu, tempat ini banyak dikunjungi peziarah baik dari Trowulan maupun dari daerah lain, bahkan dari luar Jawa Timur.

Ketenaran Makam Troloyo ini juga disebabkan karena seringnya dikunjungi oleh para pejabat tinggi. Selain itu, pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Legi, haul Syekh Jumadil Qubro, dan Gerebeg Suro di tempat ini dilakukan upacara adat yang semakin menarik wisatawan untuk datang ke tempat ini.

Situs Troloyo merupakan salah satu bukti keberadaan komunitas muslim pada masa Majapahit. Situs ini terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Untuk mencapai situs ini dapat ditempuh dari perempatan Trowulan kearah selatan sejauh ± 2 km.

Dahulu komplek makam Troloyo berupa sebuah hutan, seperti hutan Pakis yang terletak lebih kurang 2 Km di sebelah selatannya. Peneliti pertama kali P.J. Veth, hasil penelitiannya diterbitkan dalam buku Java II yang diterbitkan dalam tahun 1878. Kemudian L.C. Damais seorang sarjana berkebangsaan Perancis,hasil penelitiannya dibukukan dalam “Etudes Javanaises I. Les Tombes Musulmanes datees de Tralaya” yang dimuat dalam BEFEO (Bulletin de Ecole francaise D’extrement-Orient). Tome XLVII Fas. 2. 1957. Menurut Damais angka-angka tahun yang terdapat di komplek makam Troloyo yang tertua berasal dari abad XIV dan termuda berasal dari abad XVI.

Kepurbakalaan yang ada di Troloyo adalah berupa makam Islam kuna yang berasal dari masa Majapahit. Adanya makam kuna ini merupakan bukti adanya komunitas muslim di wilayah ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan pula oleh Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai - Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and Cherbon yang diterjemahkan oleh HJE. de Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan Cina dari Dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim. Sebelum sampai di Majapahit, muslim Cina yang bermahzab Hanafi membentuk masyarakat muslim di Kukang (Palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain termasuk wilayah kerajaan Majapahit.

Pada masa pemerintahan Suhita (1429-1447 M), Haji Gen Eng Cu yang diberi gelar A Lu Ya (Arya) telah diangkat menjadi kepala pelabuhan di Tuban. Selain itu, duta besar Tiongkok bernama Haji Ma Jhong Fu ditempatkan di lingkungan kerajaan Majapahit. Dalam perkembangannya, terjadi perkawinan antara orang-orang Cina dengan orang-orang pribumi.

Adanya situs makam ini menarik perhatian para sarjana untuk meneliti, antara lain P.J. Veth, Verbeek, Knebel, Krom, dan L.C. Damais. Menurut L.C. Damais, Makam Troloyo meliputi kurun waktu antara 1368–1611 M.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hanya diketahui nama seorang yang dimakamkan di kompleks Makam Troloyo, yaitu Zainudin. Namun nisan dengan nama tersebut tidak lagi diketahui tempatnya, sedangkan nama-nama tokoh yang disebutkan di makam ini berasal dari kepercayaan masyarakat.

Kesimpulannya bahwa ketika Majapahit masih berdiri orang-orang Islam sudah diterima tinggal di sekitar ibu kota. Ada dua buah kelompok atau komplek pemakaman : sebuah komplek terletak di bagian depan yakni di bagian tenggara dan sebuah lagi di bagian belakang (barat laut). Komplek makam yang terletak di sebuah bagian depan berturut-turut sebagai berikut :
  1. Makam yang dikenal dengan nama Pangeran Noto Suryo, nisan kakinya berangka tahun dalam huruf Jawa Kuno 1397 Saka (= 1457 M) ada tulisan arab dan lambang ‘surya Majapahit”.
  2. Makam yang dikenal dengan nama Patih Noto Kusumo, berangka tahun 1349 Saka (1427 M) bertuliskan Arab yang tidak lengkap dan lambang surya.
  3. Makam yang dikenal dengan sebutan Gajah Permodo angka tahunnya ada yang membaca 1377 Saka tapi ada yang membaca 1389 Saka, hampir sama dengan atasnya.
  4. Makam yang dikenal dengan sebutan Naya Genggong, angka tahunnya sudah aus, pembacaan ada dua kemungkinan : tahun 1319 Saka atau tahun 1329 Saka serta terpahat tulisan Arab kutipan dari surah Ali Imran 182 (menurut Damais 1850).
  5. Makam yang dikenal sebagai Sabdo palon, berangka tahun 1302 Saka dengan pahatan tulisan Arab kutipan surah Ali Imran ayat 18.
  6. Makam yang dikenal dengan sebutan Emban Kinasih, batu nisan kakinya tidak berhias. Dahulu pada nisan kepala bagian luar menurut Damais berisi angka tahun 1298 Saka.
  7. Makam yang dikenal dengan sebutan Polo Putro, nisannya polos tanpa hiasan. Menurut Damais pada nisan kepala dahulu terdapat angka tahun 1340 Saka pada bagian luar dan tulisan Arab yang diambil dari hadist Qudsi terpahat pada bagian dalamnya.
Sebagian dari nisan-nisan pada Kubur Pitu tersebut berbentuk Lengkung Kurawal yang tidak asing lagi bagi kesenian Hindu. Melihat kombinasi bentuk dan pahatan yang terdapat pada batu-batu nisan yang merupakan paduan antara unsur-unsur lama unsur-unsur pendatang (Islam) nampaknya adanya akultrasi kebudayaan antara Hindu dan Islam. Sedangkan apabila diperhatikan adanya kekurangcermatan dalam penulisan kalimah-kalimah thoyyibah dapat diduga bahwa para pemahat batu nisan nampaknya masih pemula dalam mengenal Islam.

Dengan banyaknya peziarah yang datang ke kompleks makam ini mempunyai nilai positif bagi masyarakat sekitar situs. Dampak posistif itu dapat dilihat dari segi ekonomi, di mana pendapatan masyarakat sekitar menjadi bertambah.

Hal ini menjadi perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun sarana dan prasarana yang ditujukan untuk menarik pengunjung. Namun demikian terdapat juga sisi negatifnya, yaitu pembangunan yang mengabaikan prinsip-prinsip pelestarian.Dari keadaan sekarang yang ada di situs Makam Troloyo diketahui bahwa sarana-sarana bangunan yang ada menyimpang dari penataan yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 Pasal 27 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa

pemugaran sebagaimana yang dimaksud ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan keaslian bentuk, bahan, pengerjaan, dan tata letak, serta nilai sejarahnya. Pengrusakan situs Troloyo dalam arti luas telah merubah bentuk secara keseluruhan, antara lain denah halaman makam, serta benda cagar budayanya itu sendiri. Denah halaman yang dimaksud adalah tambahan bangunan baru berbentuk lorong beratap, serta jirat dan nisan diganti bahan keramik baru warna putih sehingga sangat terlihat tidak asli. Perubahan tersebut jelas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian benda cagar budaya.

Kasus pengembangan Makam Troloyo ini dapat menjadi pelajaran bagi kita, agar dikelak kemudian hari tidak terjadi lagi kasus-kasus serupa pada situs yang lain, mengingat dewasa ini semakin maraknya perhatian Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota terhadap situs-situs kepurbakalaan yang bersifat living monument

Kompleks makam Troloyo ada dua kelompok makam. Di bagian depan (tenggara) dan di bagian belakang (barat laut). Makam di bagian depan diantaranya: Kelompok makam petilasan Wali Sanga, Kemudian di sebelah barat daya dikenali dengan sebutan Syech Mulana Ibrahim, Syech Maulana Sekah dan Syech Abd, Kadir Jailani. Ada pula Syech Jumadil Kubro. Sedang di utara Masjid terdapat makam Syech Ngudung atau Sunan Ngudung. Kompleks makam di bagian belakang meliputi: Bangunan cungkup dengan dua makam yaitu Raden Ayu Anjasmara Kencanawungu, kemudian terdapat pula kelompok makam yang disebut Makam Tujuh atau Kubur Pitu yang dikenal sebagai Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, Gajah permodo, Naya Genggong, Sabdo palon, Emban Kinasih dan Polo Putro

Sejarah Candi Gentong


Candi Gentong merupakan satu kesatuan dengan Candi Tengah dan Candi Gedong. Karena dianggap punya peran besar dalam rekonstruksi peninggalan Majapahit, pemerintah melalui proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bekas Kota Kerajaan Majapahit berusaha untuk melakukan penggalian. Hasilnya, ditemukan stupa dan arca-arca Buddha., Di luar itu, ditemukan fakta denah sebuah candi yang organisasi ruangnya unik, bahkan boleh dibilang paling unik di Indonesia.
Denah Candi Gentong tersusun dari tiga bangunan bujur sangkar yang memusat. Bujursangkar pertama atau yang paling kecil, meiliki panjang dan lebar 9,25 meter. Lalu bangunan kedua, berukuran 11,40 dan bangunan ketiga berukuran 23,5X23,5 meter.

Candi Gentong
Kenyataan yang ada di Candi Tikus, Gapura Wringin Lawang dan Candi Bajang Ratu, sangat berbeda dengan realitas yang ada di Candi Menakjinggo, Candi Gentong, Candi Sumur Upas, Candi Kedaton, dan Situs Sentonorejo atau Situs Lantai Segi Enam.
Misalnya di Candi Menakjinggo yang terletak di Dukuh Unggah-Unggahan, Desa Trowulan. Pengunjung hanya disuguhi puing-puing dan pondasi candi yang berhias lumut dan berserakan. Meski begitu, Menakjinggo tetap menyimpan pesona. Misal, di sisi batu-batuan andesit itu ada serpihan relief yang diam-diam menyimpan banyak cerita. Diantaranya kisah petualangan Si Kancil yang dengan cerdik berhasil menaklukkan buaya.

Selebihnya, ada beberapa bagian candi dipindah ke Balai Penyelamatan Arca Trowulan. Misalnya, dua relief berukuran besar yang menggambarkan seorang wanita berbadan ikan dan raksasa bersayap yang dikenal dengan sebutan Arca Menakjinggo. Sedangkan sejumlah arkeolog mengatakan, arca ini bernama Arca Garuda.

Di kalangan masyarakat sekitar, candi ini dikenal dengan sebutan Sanggar Pamelengan. Konon, candi ini dibangun Menakjinggo, Bupati Blambangan, sebagai bentuk pemujaan atau pamelengan pada Ratu Kenconowungu.

Sama dengan Candi Menakjinggo, di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, terdapat sebuah candi yang diawal penemuannya sempat mengejutkan masyarakat. Mengutip catatan Edi Pion, Arkeolog yang tinggal di Mojokerto, candi berukuran 23,5X23,5 meter dan tinggi 2,45 meter ini relatif lebih besar dibanding Candi Brahu, Wringin Lawang, bahkan Bajangratu. Berdasar beberapa catatan jaman Belanda, bangunan ini dikenal sebagai Candi Gentong.

Misalnya dalam Rapporten Oudheidkundige Commisie disebutkan, tahun 1907, di Desa Trowulan terdapat Candi Gentong yang tinggal puing-puing. Fakta ini diperkuat dengan tulisan NJ Krom di Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kuns pada tahun 1923 dan pernyataan Maclaine Pont, pendiri Museum Trowulan.

Berdasar analisa carbon dating yang diteliti di Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi Bandung, diketahui, candi ini dibangun pada tahun 1370. Artinya, Candi Gentong berasal dari zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Dari data denah bangunan didukung temuan-temuan arkeologis lain, Candi Gentong dulu merupakan bangunan stupa yang relatif besar di bagian pusat, kemudian dikelilingi oleh stupa-stupa yang lebih kecil.

Candi Brahu, Trowulan



Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, dulu menjadi ibukota Kerajaan Majapahit. Kini sisa-sisa kebesaran kerajaan ini masih bisa kita saksikan di kota itu. Candi Brahu menjadi candi terbesar yang banyak didatangi wisatawan.
Candi Brahu terletak di Desa Bejijong. Seperti bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Trowulan, candi ini terbuat dari batu bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok. Di antara peninggalan Majapahit yang ada di Trowulan, Candi Brahulah yang paling besar.
Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh dan bingkai atas. Kaki candi terdiri dari dua tingkat dengan selasarnya serta tangga di sisi barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda.
Salah seorang juru kunci yang kami temui menjelaskan pada waktu dilakukan pembongkaran struktur bata pada bilik ini ditemukan sisa-sisa arang yang kemudian dianalisis di pusat penelitian Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Yogyakarta.
Hasil analisis menunjukkan bahwa usia radio karbon arang Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410-1646. Atap Candi Brahu tingginya kira-kira 6 meter. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa.
Berdasarkan gaya bangunan serta profil sisa hiasan berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa Candi Brahu adalah candi Buddha. Diperkirakan candi ini berusia lebih tua jika dibandingkan dengan candi-candi yang ada di situs trowulan.
Dasar dugaan ini adalah Prasasti Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu. Prasasti itu dikeluarkan oleh Mpu Sindok pada tahun 861 Saka atau 939 Masehi. Candi Brahu dipugar mulai 1990-1995.

andi Brahu terletak di Pedukuhan Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto - Jombang, terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya. Denah bangunan bujur sangkar dan arah hadapnya ke barat dengan azimuth 227°. Ukuran bangunan : tinggi 25,7 m, serta lebar 20,7 m.


A. STRUKTUR BANGUNAN CANDI BRAHU
Struktur bangunan Candi Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas.Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran.Dari penelitian yang terdapat pada kaki candi diketahui terdapat susunan bata yang strukturnya terpisah, diduga sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya.Ukuran kaki candi lama ini 17 x 17 m. Dengan demikian struktur kaki yang sekarang merupakan tambahan dari bangunan sebelumnya. Kaki Candi Brahu terdiri dari dua tingkat dengan selasarnya serta tangga di sisi barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda.

Bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi, melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuh candi melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok. Sebagai bahan perbandingan, ciri-ciri candi Jawa Timur adalah bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan lukisanya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat, sebagian besar terbuat dari batu bata merah. Penggunaan batu bata merah disebabkan karena faktor lingkungan yang kurang mendukung dengan tidak adanya batu andesit seperti yang digunakan pada candi-candi di Jawa Tengah.


Brahu
Gambar : Candi Brahu


Denah Candi Brahu berukuran 10 x 10,5 m dengan tinggi 9,6 m. Di dalamnya terdapat bilik berukuran 4x4 m, namun kondisi lantainya telah rusak. Pada waktu pembongkaran struktur bata pada bilik ini ditemukan sisa - sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Yogyakarta.Hasil analisa menunjukkan bahwa pertanggalan radio karbon arang Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646 masehi.

Atap Candi Brahu tingginya kurang lebih 6 m. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Berdasarkan gaya bangunan serta profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa Candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu diperkirakan Candi Brahu umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di situs Trowulan. Dasar dugaan ini adalah prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu, kira-kira sekitar 45 m di sebelah barat Candi Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861 Saka 939 M, di antara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu Waharu atau Warahu. Nama istilah inilah yang diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang. Candi Brahu dipugar pada tahun 1990/1991 sampai dengan 1994/1995.

Dari reliefnya, candi ini adalah gambaran sinkretisme keagamaan antara agama Hindu dan agama Budha, dan dengan gambaran sinkretisme tersebut, hingga saat ini pemeliharaan Candi Brahu dilakukan oleh kedua agama tersebut. Awalnya candi ini berfungsi sebagai tempat pembakaran raja-raja Majapahit, namun asumsi tersebut tidak terbukti karena tidak ditemukannya sisa–sisa abu pembakaran jenazah. Berbeda dengan ritual pemujaan pada situs pemujaan lainnya, di sini aktifitas tersebut dilakukan hanya dengan cara meletakkan sesaji pada bagian depan dan pintu candi yang menghadap ke arah barat.

letak candi brahu
Gambar: Lokasi Candi Brahu


Meskipun tidak terbukti, menurut masyarakat sekitar Candi Brahu, candi ini dahulunya berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah dari Raja Brawijaya I sampai IV. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap Candi Brahu tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong. Candi Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat beberapa bangunan candi-candi lain, yaitu candi Gentong. Candi Gentong berjarak kurang lebih sekitar 360m dari Candi Brahu. Dan candi-candi lainnya ialah Candi Gedong dan Candi Tengah yang sekarang sudah tidak nampak lagi. Di sekitar Candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain :
  1. Benda-benda semisal perhiasan dari emas dan perak.
  2. 6 buah arca yang bersifat agama Budha.
  3. Piring perak yang bagian bawah bertuliskan tulisan kuno.
  4. 4 lempeng prasati tembaga pada masa Raja Mpu Sindok.


B. SEJARAH CANDI BRAHU
Candi Brahu merupakan salah satu candi yang ada dalam lingkungan situs Trowulan Kerajaan Majapahit. Candi Brahu sudah ada sebelum masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk bahkan diperkirakan juga sudah ada sebelum masa Raja Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu merupakan candi yang paling tua dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di daerah situs Trowulan. Candi Brahu didirikan oleh Mpu Sindok yang sebelumnya ia merupakan raja dari Kerajaan Mataram Kuno yang ada di Jawa Tengah. Hal ini dijelaskan dari nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kata 'Wanaru' atau 'Warahu', yaitu nama sebuah bangunan suci keagamaan yang disebutkan di dalam prasasti tembaga 'Alasantan' yang ditemukan kira-kira 45 meter disebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Dari penuturan prasasti itu dijelaskan bahwa Candi Brahu yang didirikan oleh masa Mpu Sindok ialah candi yang usianya lebih tua dibanding candi-candi lain bahkan lebih tua dari Kerajaan Majapahit. Pada masa Kerajaan Majapahit, Candi Brahu digunakan sebagai tempat persembayangan atau merupakan bangunan suci yang digunakan untuk berdoa.Hal ini dapat dilihat dari temuan-temuan yang berada di candi tersebut seperti beberapa benda yang kerap menjadi alat-alat upacara keagamaan seperti alat-alat upacara dari logam.

candi brahu
Gambar : Candi Brahu


Menurut beberapa penelitian, Candi Brahu dinyatakan sebagai candi agama Budha. Anggapan ini muncul karena candi Brahu memiliki stupa yang kerapnya menjadi ciri-ciri bagi candi agama Budha. Selain itu bentuk dari Candi Brahu yang lebih berbeda dibanding candi-candi lain di situs Trowulan Kerajaan Majapahit, bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi.

Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar, hal tersebut memunculkan anggapan bahwa Candi Brahu didirikan bukan pada masa kerajaan Majapahit, melainkan merupakan bangunan candi yang dibangun sebelum Kerajaan Majapahit. Selain itu anggapan lain yang menerangkan bahwa Candi Brahu merupakan candi agama Budha ialah penemuan beberapa benda-benda kuno. Disekitar kompleks candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa candi Brahu merupakan candi Budha .


C. KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR CANDI
Pemukiman terpencar-pencar di lembah-lembah sungai ataupun pegunungan-pegunungan. Tempat-tempat tersebut masih sedikit penduduknya,maka banyak masyarakat-masyarakat desa yang memiliki hutan dan tanah persawahan yang luas.Tanah yang dimiliki oleh para rakyat kebanyakan atau golongan bangsawan biasa atau golongan bangsawan agama. Dari situlah tumbuh masyarakat seperti masyarakat lingkungan yang meninggali wilayah yang berdekatan dengan bangunan suci seperti candi yang terdapat golongan agamawan yang disekelilingnya masyarakat sekitanya bekerja sebagai tani.

Kehidupan sosial masyarakat sekitar Candi Brahu pada waktu itu kurang lebih sama seperti daerah kehidupan sosial masyarakat sekitar peninggalan candi yang lainnya di situs Trowulan. Kehidupan masyarakat sekitar Candi Brahu tak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat pada perkembangan kerajaan Majapahit, walau Candi Brahu dimungkinkan berdiri sebelum Kerajaan Majapahit itu sendiri. Masyarakat di sekitar Candi Brahu sangat menginternal sekali, di dalam diri mereka kebudayaan serta keahlian para leluhurnya sangatlahdihargai dan mereka terus lestarikan sesuai tradisi yang ada. Dengan adanya regenerisasi kebudayaan tersebut mencerminkan bahwa masyarakat sekitar Candi Brahu sangat menghargai,menghormati, peduli serta menjunjung tinggi terhadap kebudayaan leluhur mereka.

Sebagai lingkungan candi yang dipergunakan sebagai tempat keagamaan, lingkungan sekitar Candi Brahu menjadi lingkungan yang menumbuhkan masyarakat yang sadar betul akan kehidupan beragama. Di lingkungan Candi Brahu ada pula lingkungan kaum agama yang biasa hidup berkelompok di sekitar bangunan agama, seperti mandala, dharma, sima, wihara dan sebagainya.Pada umumnya mandala memperoleh kebebasan yang luas.Mereka dinyatakan bebas dari pembayaran pajak dan hanya diwajibkan membayar beberapa yang memang sudah lazim.Mereka berada dibawah kekuasaaan pendeta tertinggi, bebas dari campur tangan raja dan bebas dari kewajiban pemilik tanah sekuler. Sama seperti halnya Candi Brahu yang dinyatakan sebagai tempat pendarmaan raja Brawijaya yang jelas merupakan bangunan suci keagaaman dan tentunya mendapat asuhan dari para pendeta yang berada di mandala.Hal itu membuktikan bahwa adanya lingkungan yang ditempati kaum agamawan.

Ada pula kehidupan yang di bagi-bagi sesuai golongan menurut pekerjaan dari penduduk desa, seperti golongan keluarga tani bebas (rama) dan anggota komunitas biasa (dapur) yang diperintah oleh para pengetua(buyut). Dapur ialah bentuk kelompok masyarakat asli yang tertua dan penduduknya ialah apa yang dinamakan kulina, yaitu para masyarakat dari keluarga petani kuno, penduduk asli daerah dan anak keturunan cikal-bakal desa. Mereka merupakan penduduk asli desa.

Kebanyakan profesi masyarakat desa ialah menjadi petani yang dimana petani terbagi menjadi beberapa golongan diantaranya petani yang menggarap tanah sendiri atau milik tuan tanah atau dan buruh tani. Didaerah kaum agamawan, para bangsawan menyuruh budak-budak untuk mengolah tanah mereka dan memungut panennya, sebagian pengolahan tanah dan panen diserahkan kepada pekerja dari masyarakat desa yang ada didekatnya, dan juga para kaum agamawan.Para pekerja itu dibayar dengan sebagian dari hasil panen yang ditetapkan menurut adat. (sumber)
 
Copyright © 2015 MOJOKLIK