BREAKING NEWS

Join the Club

Minggu, 25 Januari 2015

Pegawai Bank UMKM Tewas Tertimpa Pohon Tumbang

Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto - Sebuah pohon jenis 'Sono Keling' yang terletak pinggir Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto, tiba-tiba tumbang ke tengah jalan, Selasa (2/9/2014) sekitar pukul 20.15 WIB. Akibatnya, seorang pegawai bank pemerintah, Nur Hasan (45) tewas seketika dengan kondisi kepala pecah setelah tertimpa pohon berdiameter 50 sentimeter itu.
Sorang saksi mata, Suwardi (40) mengatakan, saat kejadian, Hasan melintas di Jalan Bhayangkara mengendarai sepeda motor Supra X 125 bernopol S 6093 N. Korban yang diketahui warga Dusun Sambiroto, Kecamatan Sooko, Mojokerto, itu hendak mengantarkan Andri Setiawan (22) ke rumahnya usai latihan futsal di kawasan Benteng Pancasila, Kota Mojokerto.
"Tidak ada angin kencang, hanya sepoi-sepoi, tiba-tiba pohon ini tumbang dan menimpa dua pria pengendara sepeda motor yang berboncengan itu," kata Suwardi kepada detikcom di lokasi kejadian.
Akibat kejadian itu, Hasan tewas seketika di lokasi kejadian dengan kondisi kepala pecah. Jenazah korban yang berstatus pegawai Bank UMKM itu dievakuasi ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Mojokerto.
"Saat kejadian, kondisi jalan cukup ramai, ada becak dan pengendara motor lain yang hampir tertimpa," imbuh Suwardi.
Sementara Andri yang merupakan warga Sinoman gang 6, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, mengalami luka serius di bagian lehernya. Mahasiswa jurusan teknik informatika sebuah universitas di Jombang itu telah dievakuasi ke RS Rekso Waluyo, Mojokerto untuk menjalani perawatan.
"Saat kejadian, anak saya sedang dibonceng oleh Pak Hasan setelah latihan futsal di Benpas," ucap Sugiarti, ibu korban saat ditemui di rumah sakit.
Pantauan detikcom di lokasi, akibat peristiwa itu, arus lalu lintas dari arah Jalan Gajah Mada sempat dialihkan ke Jalan PB Sudirman. Satu jam kemudian, bangkai pohon yang bagian bawahnya sudah keropos itu, telah dibersihkan dari tengah jalan.

Belajar dari Vietnam Melindungi Etnik Cham yang Minoritas

Makam Putri Cempo (Foto: Tamam Mubarak/detikcom)

Jakarta - Pernah mendengar tentang Kerajaan Champa dari Indochina? Putri dari Champa ini pernah menikah dengan raja Majapahit Brawijaya V yang makamnya masih bisa ditemukan di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Kini keturunan Kerajaan Champa masih bertahan di Vietnam dengan keunikannya.
"Mereka (etnik Cham) ini menarik. Orang-orang yang tersingkir dari suku aslinya terus bagaimana dia berjuang dari nol, bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang lebih baik," ujar salah satu dari tim peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR) LIPI, Betti Rosita Sari.
Hal ini diungkapkannya usai memaparkan hasil penelitian dalam seminar di Gedung LIPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2014). Betti bersama Yekti Maunati dan Amorisa Wiratri meneliti tentang keunikan budaya etnik Cham selama 5 tahun terakhir. Kelompok etnik Cham sendiri tersebar ke beberapa negara antara lain Malaysia dan Kamboja.
Mereka terdiri dari 3 kelompok, yakni Cham Islam, Cham Awal (Cham Bani) dan Cham Ahir (Cham Hindu). Di mana masing-masing kelompok memiliki keunikan sentuhan budaya lokal tersendiri dalam ritual beragamanya.
Misalnya, etnik Cham Awal (Cham Bani) tidak melakukan sembahyang 5 kali sehari layaknya umat muslim pada umumnya, melainkan satu kali yaitu saat Salat Jumat saja. Selain itu dalam bulan Ramawan (Ramadan bagi Cham Islam) mereka tidak berpuasa, hanya imam (orang yang dituakan dalam keluarga) berpuasa mewakilinya.
"Mereka memiliki tradisi campuran Islam dengan tradisi asli Cham peninggalan nenek moyangnya. Ya sedikit banyak menyerupai Kejawen, walaupun nggak sama persis," lanjutnya.
Meski keberadaan mereka minoritas, namun etnik Cham dapat hidup damai dan membaur dengan penduduk lainnya. Bahkan, saat ini pemerintah Vietnam mengeluarkan kebijakan untuk mempromosikan keunikan etnik minoritasnya di negaranya agar dapat mempertahankan budayanya. Betti mengatakan pelajaran ini bisa dipetik untuk Indonesia. Terlebih, negeri ini juga hidup dalam heterogenitas yang tinggi dan terdiri banyak budaya."Pelajaran bagi negara Indonesia sebagai multikultur ya. Semua etnik, ras dan agama itu kedudukannya sama di mata negara sehingga tidak boleh ada pembedaan apalagi diskriminasi terhadap kaum minoritas," pungkasnya.Di Indonesia, jejak Kerajaan Champa terlihat dari makam Putri Champa atau Putri Cempo. Menurut buku yang ditulis Slamet Muljana berjudul "Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara", merujuk Babad Tanah Jawi/Serat Kanda, putri Champa yang menikah dengan Raja Majapahit Angkawijaya, bernama Dwarawati hingga melahirkan Retna Ayu. Putri Champa Dwarawati mangkat 1320 Tahun Saka dan dimakamkan secara Islam di Citrawulan (kini Trowulan).
 makam Putri Champa ini yang dimakamkan berdampingan dengan suaminya Raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Putri Champa ini merupakan bibi dari Sunan Ampel dan ibu dari Raden Fatah, Sultan Demak pertama.
Putri Campo sendiri dimakamkan di Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan Mojokerto. Di pelataran makam ini, terdapat dua makam yang berada di posisi paling atas, yakni Makam Putri Campo dan Prabu Brawijaya V alias Damar Wulan.
Makam Putri Campa sendiri ditandai dengan nisan hanya di bagian kepala saja. Sementara Prabu Brawijaya V ditandai dengan dua nisa di kaki dan kepala. Kedua makam ini terletak di tengah-tengah makam Islam kuno. Selain itu, makam juga sangat dekat sekali dengan Candi Menak Jinggo.
Putri Campo adalah pemeluk agama Islam. Konon, dia diyakini mampu mengajak Prabu Brawijaya V untuk memeluk agama Islam setelah menikahinya. Sebab, dalam ajaran Islam, pernikahan beda agama merupakan larangan.Dalam Serat Darmogandul Pupuh 20, terdapat riwayat yang menceritakan detik-detik akhir hayat Prabu Brawijaya V. Dalam Serat itu, raja tersohor Majapahit ini meminta dimakamkan sesuai ajaran Islam.

Mendagri Sangsi Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa Jadi Nama Jalan

Bupati MKP
Jakarta - Nama Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa menjadi penamaan jalan di kawasan Pacet. Mendagri Tjahjo Kumolo pun sangsi terhadap penamaan jalan itu lantaran Mustofa saat ini masih menjabat dan akan bertarung lagi dalam kontestasi politik sebagai calon incumbent.
"Nama jalan bisa mantan Bupati atau Walikota atau tokoh daerah setempat yang mempunyai jasa terhadap daerah dan biasanya pencantuman nama jalan orangnya sudah meninggal," ungkap Tjahjo kepada detikcom, Senin (12/1/2015).
Pemakaian nama Mustofa Kamal Pasa untuk nama jalan pun disebut merupakan usulan warga dan belum diresmikan. Anehnya, nama jalan itu sudah terpampang di Desa Claket, Kecamatan Pacet pada sebuah pemandian air panas.
"Nama jalan di kabupaten/kota keputusannya diputuskan bersama dengan DPRD dalam bentuk Perda atau keputusan pada eksekutif/kepala daerah dan DPRD setempat. Itu yang saya ketahui," tutur Tjahjo.
Meski demikian Kepala Dinas PU Kabupaten Mojokerto Zainal Abidin menegaskan bahwa nama 'Mustofa Kamal Pasa' memang akan dijadikan nama jalan. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan bidang hukum sehingga dapat muncul Peraturan Bupati.
Disebutkan pula oleh Zainal bahwa masih ada beberapa wilayah di Mojokerto yang belum memiliki nama jalan. Oleh sebab itu peresmiannya akan dilakukan berbarengan.
Sementara itu pembangunan jalan tersebut telah menelan dana sebesar Rp 14,134 miliar dari APBD 2014. Ruas jalan tersebut menggunakan konstruksi beton sepanjang 4,6 kilometer dan lebar 7 meter.
Dituturkan pula oleh Zainal bahwa awal penggarapan jalan Mustofa Kamal Pasa sejak April 2014 oleh PT Gorip Nanda Guna. Meski telah menghabiskan Rp 14,134 miliar namun belum ada fasilitas jalan seperti rambu-rambu dan lampu.
"Tahun 2015 akan dibangun fasilitas penunjang jalan berupa trotoar dengan anggaran Rp 3,484 miliar. Nantinya trotoar bisa untuk pejalan kaki, lebar setiap sisi 1,5 meter termasuk saluran airnya," sebut Zainal.
 
Copyright © 2015 MOJOKLIK